BAB
1
Pendahuluan
hubungan
manusia dengan sesuatu yang dianggap supernatural memang memiliki latar
belakang sejarah yang cukup panjang. Para antropolog melihat hubungan manusia
dengan zat yang supernatural itu dari sudut pandang kebudayaan. Hasil temuan mereka
menunjukan bahwa pada masyarakat yang masih memiliki kebudayaan asli (primitif)
dijumpai adanya pola kebudayaan yang mencerminkan bentuk hubungan masyarakat
dengan sesuatu yang mereka anggap adikuasa dan suci. Sedangkan para sosiolog menjumpai adanya semacam norma
yang mengatur kehidupan masyarakat primitif. Norma-norma tersebut dilembagakan
menjadi tata kehidupan bermasyarakat dan dikaitkan dengan nilai-nilai
spiritual.
Di
lain pihak, para agamawan memperkuat hubungan tersebut. Berdasarkan informasi
kitab suci, hubungan manusia dengan zat yang supernatural ini digambarkan
sebagai hubungan antara makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta. Dari kenyataan
yang ada, para psikologi mencoba melihat hubungan manusia dengan kepercayaan
ikut dipengaruhi dan juga mempengaruhi faktor kejiwaan. Proses dan sistem
hubungan ini menurut mereka dapat dikaji secara empiris dengan menggunakan
pendekatan psikologi. Perbedaan pendapat antara agamawan dan para psikologi
agama sempat menunda munculnya psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang
berdiri sendiri. Sehingga, psikologi agama sebagai cabang psikologi baru tumbuh
sebagai disiplin ilmu sekitar penghujung abad ke-19.
Dalam
bukunya si penulis membahas berbagai permasalahan yang dialami psikologi agama
di awal-awal perkembangannya hingga menjadi disiplin ilmu yang otonom.
Selanjutnya untuk kepentingan pendidikan agama, si penulis membahas
perkembangan jiwa agama pada tingkat perkembangan anak-anak dan remaja. Selain
itu akan dibahas berbagai kriteria yang dimiliki orang-orang yang matang
beragama. Pembahasan juga akan meliputi hunungan agama dengan kesehatan mental
serta bagaimana hubungan kepribadian dengan sikap keberagamaan seseorang.
Selanjutnya
dalam bukunya, si penulis mengemukakan pembahasan tentang pengaruh kebudayaan
terhadap jiwa keagamaan. Lebih lanjut akan dikemukakan pengaruh pendidikan
terhadap pembentukan jiwa keagamaan seseorang, pengaruh agama terhadap
kehidupan manusia. Akhirnya dalam pembahasan juga akan dikemukakan berbagai
gangguan dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang hingga terjadi berbagai
tingkah laku keagamaan yang menyimpang.
Psikologi Agama
Edisi Revisi 2009
Penulis,
Prof. Dr. H. Jalaluddin
BAB
2
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN
ILMU
A. Psikologi Agama dan Cabang
Psikologi
Psikologi
secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang bersangkutan dengan
pikiran (Cognisi), perasaan (emotion) dan kehendak (conasi), gejala tersebut
dapat diamati melalui sikap dan prilaku manusia. Gejala tersebut secara umum
memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan
beradab. Namun seringkali ada diantara pernyataan dalam aktivitas yang tampak
itu merupakan gejala campuran. Ahli psikologi membaginya menjadi empat gejala
jiwa utama yaitu, pikiran, perasaan, kehendak,
dan gejala campuran. Adapun yang
termasuk gejala campuran disini seperti intelektual, kelelahan maupun sugesti.
Setelah
lahirnya cabang-cabang psikologi dan kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom
dan terapan (applied science),
berkembang sejalan dengan kegunaannya. Dengan demikian psikologi yang diakui
sebagai disiplin ilmu sejak tahun 1879 ini ternyata telah banyak memperlihatkan
sumbangsinya dalam memecahkan berbagai problema dalam kehidupan manusia serta
mengupayakan peningkatan SDM (Djamaludin Ancok, 1994:1). Berbagai cabang
memisahan diri dari induknya kemudian menjadi disiplin yang otonom.
Seabad
setelah psikologi diakui sebagai disiplin ilmu yang otonom, para ahli melihat
bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan kehidupan batin manusia, yaitu
agama. Kemudian para ahli pun mulai menekuni studi khusus tentang hubungan
antara kesadaran agama dan tingkah laku agama. Kajian-kajian khusus mengenai
agama melalui pendekatan psikologi ini sejak awal-awal abad ke-19 semakin
berkembang, sehingga para ahli pun memalui karyanya membuka lapang baru dalam
kajian psikologi, yaitu psikologi agama. Sebagaimana latar belakang
perkembangan cabang psikologi yang lain, psikologi agama pun mandapat perhatian
khusus dan menjadi disiplin ilmu yang otonom.
B. Pengertian Psikologi Agama
Psikologi
agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama, kedua kata ini memiliki
arti yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa, dan beradab (Jalaluddin, at al, 1979:77). Menurut Robert H.
Thouless, psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang
tingkah laku dan pengalaman manusia
(Robert H. Thouless, 1992:13).
Menurut
Harun Nasution pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al Din, religi (relegere, religare) dan
agama. Al Din (semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa
arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang,
balasan,kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (latin) atau relege berarti mengumpulkan
dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari
a (tidak) gam (pergi) mengandung arti tidak pergi, diam ditempat atau
diwarisi turun-temurun (Harun Nasution, 1975:9-10).
Robert
H. Thouless berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang
bertujuan mengembangkan terhadap prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan
prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap prilaku bukan
keagamaan (Robert H. Thouless:25).
C. Ruang Lingkup dan Kegunaannya
menurut
Zakiah Drajat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian Psikologi Agama
meliputi kajian:
a) Bermacam-macam
emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama
orang biasa (umum), seperti misalnya, rasa lega dan tentram setelah sembahyang.
b) Bagaimana
perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya
ras tentram dan kelegaan batin.
c) Mempelajari,
meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati
(akhirat) pada tiap-tiap orang.
d) Meneliti
dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang
berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi
pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e) Meneliti
dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat
suci kelegaan batinnya.
Semuanya
itu menurut Zakiah Drajat tercakup dalam kesadaran agama (religious counsciousness) dan pengalaman agama (relegious experience).
D. Psikologi Agama dan Pendidikan
Islam
Pendidikan
Islam disini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh meraka yang
memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengarahan serta
pengembangan potensi yang dimiliki. Jadi dalam pengertian ini pendidikan Islam
tidak dibatasi oleh institusi ataupun pada lapangan pendidikan tertentu,
pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas, pendidikan Islam erat
kaitannya dengan Psikologi Agama. Bahkan psikologi agama digunakan sebagai
pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan islam.
Pendekatan
psikologi agama dalam pendidikan islam ternyata telah dilakukan di periode awal
perkembangan islam itu sendiri. Fungsi dan peran kedua oran tua sebagai teladan
yang terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan islam. Bahkan agama dan
keyakinan seseorang anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan orang
tuanya. Tak mengherankan jika Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa
keberagaman anak terpola dari tingkah laku bapaknya.
Pembentukan
jiwa keagamaan pada anak diawali sejak ia dilahirkan, bimbingan kejiwaan
diarahkan pada pembentukan nilai-nilai imani. Sedangkan keteladanan,
pembiasaan, dan disiplin dititik beratkan pada pembentukan nilai-nilai amali.
Keduanya memiliki hubungan timbal balik. Dengan demikian, kesadaran agama dan
pengalaman agama dibentuk melalui proses bimbingan terpadu. Hasil yang
diharapkan adalah sosok manusia yang beriman (kesadaran agama), dan beramal
shaleh (pengalaman agama).
BAB
3
PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A.
Sejarah Perkembangannya
Berdasarkan
sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi
agama mulai populer sekitar akhir abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang
semakin berkembang dignakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu
dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berfikir, dan mengemukakan
perasaan keagamaan (Robert H. Thouless, 1992:1). Sejak saat itu, kajian-kajian
tentang psikologi agama tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah
yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah-masalah
khusus.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai
psikologi agama ini baru di kenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof.Dr.
Zakiah Daradjat. Ada sejumlah buku yang belau tulis untuk kepentingan buku
pegangan bagi mahasiswa dilingkungan IAIN. Diluar itu, kuliah mengenai
psikologi agama juga sudah diberikan, oleh Prof.Dr. A. Mukti Ali dan
Prof.Dr.Zakiah Dradjat sendiri. Seperti pernyataan Robert H. Thouless, bahwa
kehirauan terhadap permasalahn yang berrkaitan dengan tingkah laku keagamaan
sebagai permasalahan yang menyangkut kesadaran agama ternyata telah membuka
jalan bagi pemanfaatan psikologi secara luas dalam tugas pemahaman terhadap
permasalahan agama (Robert H. Thouless, 1992:12).
Seperti
dimaklumi, bahwa psikologi agama tergolong cabang psikologi yang berusia muda.
Berdasarkan informasi dari bergbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa
kelahiran psikologi agama sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri memiliki
latar belakang sejarah yang cukup panjang. Selain itu, pada tahap-tahap awalnya
psikologi agama didukung oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Sumber-sumber Barat umumnya merujuk awal kelahiran psikologi agama adalah karya
Edwin Diller Starbuck dan William James. Buku The Psychology of Religion: An
Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness karya E.D Strabuck
diterbitkan tahun 1899, dinilai sebagai buku yang memang khusus membahas
masalah yang menyangkut psikologi agama. Setahun kemudian (1900), William James
menerbitkan buku The Varieties of
Religious Experiencies. Buku yang berisi pengalaman keagamaan berbagai
tokoh ini kemudian dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari
kelahiran psikologi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Psikologi
agama diakui sebagai disiplin ilmu, cabang psikologi, seperti ilmu-ilmu cabang
psikologi yang lainnya.
B.
Beberapa Metode dalam Psikologi Agama
1. Dokumen Pribadi
(Personal Document)
a) Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami
tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan
umum dari hubungan antara sikap dan kondisi yang dianggap sebagai penyebab
terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang terlihat sebagai kecenderungan
sikap umum itu di nilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap
individu yang ada di dalamnya, Philip G. Ziambardo (dalam Jalaludin).
Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan inidividu.
b) Teknik Analisis Nilai
(Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Data yang
terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk
dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan
berdasarkan perimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat
dibaha dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan
antara sejumlah variabel.
c) Teknik Idiography
Teknik ini juga merupakan pendekatan psikolgis yang digunakan untuk
memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomotatik, maka
ideography lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan
keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas
masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.
d) Teknik Penilaian
terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau
dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan
dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang
terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan
pengalaman dan kesadaran agama.
2. Kuesioner dan Wawancara
a. Pengumpulan pendapat
masyarakat (Public Opinion Polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara
mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data
tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat
berdasarkan kepentingan penelitian.
b. Skala penilaian (Rating
Scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang
menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan
kelompok, misalnya. Dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat
memahami latar belakang timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan
agama. Misalnya sikap liberal lebih banyak dijumpai di kalangan penganut
Protestan, dan sikap konservatif lebih banyak dijumpai di kalangan penganut
agama Katolik.
c. Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang
dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya
diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
d. Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku
keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui
pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological and anthropological
observation)
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari
sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok.
f.
Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara,
ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik
kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan
dengan kebudayaan. Misalnya, adanya persaudaraan antara sesama orang yang
ber-Tuhan, masalah ke-Tuhanan dan agama, adanya kebenaran keyakinan yang
terlihat dalam bentuk formalitas, bentuk-bentuk praktek keagamaan, dan
sebagainya.
C.
Psikologi Agama dalam Islam
Secara
terminologis, psikologi agama memang tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam
klasik. Karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literatur
barat. Dan di kalangan ilmuan barat yang pertama kali menggunakan sebutan
psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, melalui karangannya psychology of religion yang diterbikan
tahun 1899. Meskipun dikalangan ilmuan
muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan secara khusus
sekitar abad pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada sangkut
pautnya dengan kajian ini sudah ada sejak awal perkembangan Islam. Kenyataan
ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran islam yang dapat dijadikan acuan
dalam studi psikologi agama.
Pendekatan
psikologi Barat bagaimanapun juga belum dapat menggambarkan konsep manusia
secara utuh dan lengkap. Hal ini menunjukan bahwa kelemahan psikologi dalam
menerangkan siapa sesungguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata
dirinya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya. Beranjak dari konsep
Islam tentang manusia, terungkap bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang
memiliki hubungan makhluk-khalik secara fitrah. Untuk menjadikan hubungan
tersebut berjalan normal, maka manusia dianugrahi beberapa potensi yang
dipersiapkan untuk kepentingan pengaturan hubungan tersebut.anugrah tersebut
diantaranya: berupa dorongan naluri, perangkat inderawi, kemampuan akal, dan
fitrah agama yang jika dikembangkan melalui bimbingan yang baik akan mampu
mengantar manusia mencapai sukses dalam kehidupannya sebagai makhluk yang taat
mengabdi kepada penciptanya.
BAB
4
PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN PADA
ANAK DAN REMAJA
A. Teori Tentang Sumber Kejiwaan
Agama
1. Teori Monistik
1) Thomas
Van Aquino
Mengemukakan
bahwa yang menjdi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir. Manusia ber-Tuhan
karena manusia menggunakan kemampuan berfikirnya. Kehidupan beragama merupakan
kegiatan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri.
2) Fredrick
Hegel
Filosofis
Jerman ini berpendapat, agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh
benar dan tempat kebenaran abadi. Berdasarkan hal itu, agama semata-mata
merupakan hal-hal atau persoalan yang berhubungan dengan pikiran.
3) Rudolf
Otto
Sumber
kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari the wholly other (yang sama sekali lain). Perasaan semacam itulah
yang menurut pendapatnya sebagai sumber dari kejiwaan agama pada manusia.
4) Fredrick
Schleimacher
Yang
menjadi sumber keagamaan adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Dengan adanya rasa ketergantungan
yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah, sehingga manusia akan selalu
bergantung kepada suatu kekuasan yang ada di luar dirinya. Berdasarkan rasa
ketergantungan itulah maka timbul konsep tentang Tuhan.
5) Sigmund
Frued
Unsur
kejiwaan yang menjadi sumber kajiwaan agama ialah libido sexuil (naluri seksual), berdasarkan libido ini timbullah
ide tentang ke-Tuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses:
1.
Oedipoes Complex, yakni mitos Yunani
kuno yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka oedipoes
membunuh ayahnya. Kejadian itu berawal dari manusia primitif, mereka
bersekongkol untuk membunuh ayah yang berasal dalam masyarakat promiscuitas. Stelah ayah mereka mati,
maka timbul rasa bersalah (sense of guilt)
pada diri anak-anak itu.
2.
Father Image (Citra Bapak), setelah
mereka membunuh ayah mereka dan dihantui oleh rasa bersalah itu, maka timbullah
rasa penyesalan. Perasaan itu menerbitkan ide untuk memuja arwah ayah mereka ,
karena khawatir akan pembalasan arwah tersebut. Realisasi dari pemujaan
tersebut sebagai asal dari upacara keagamaan. Jadi, menurut Freud agama muncul
dari ilusi (khayalan) manusia.
6) William
Mac Dougall
Sumber
kejiwaan agama merupakan kumpulan dari beberapa instink. Menurut Mac Dougall,
pada diri manusia terdapat 14 macam instink, maka agama timbul dari instink
secara terintegrasi.
B. Timbulnya Jiwa Keagamaan pada
Anak
1. Rasa
Ketergantungan (Sense of Depend)
Teori
ini dilemukakan oleh Thomas melalui teori four
wishes. Menurutnya manusia dilahirkan kedunia mempunyai empat keinginan
yaitu: keinginan untuk perlindungan (security),
keinginan akan pengalaman baru (experience),
keinginan untuk mendapat tanggapan (response),
keinginan untuk dikenal (recognation).
2. Instink
Keagamaan
Menurut
Woodwoorth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa insting diantaranya
insting keagamaan.
C. Perkembangan Agama pada Anak
1. The
Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Pada tahap ini anak yang berumur 3 –
6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi,
sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang
diliputi oleh dongeng- dongeng yang kurang masuk akal.
2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada
Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada
emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada
usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah
bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini
dan dipukul bila melanggarnya.
3. The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan
dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini
terbagi menjadi tiga golongan:
- Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
- Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
- Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
D. Sifat-sifat Agama pada Anak-anak
a. Unreflective
(kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja.
Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk akal.
Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun,
sejalan dengan perkembangan moral.
b. Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa
pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak
mempunyai arti seperti orang dewasa. Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau
gerak- gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun
ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak.
Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah
yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
c. Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya.
Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai (bagaimana)
dan (mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan
religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif
dan konkret.
d. Verbalis dan
Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal).
Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan mengerjakan
amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan
yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang
mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).
e. Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan
meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran,
akan tetapi berupa teladan
f. Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda
dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis dan
kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Untuk itu perlu
diberi pengertian dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan
pemikirannya. Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang
sangat penting.
E. Perkembangan Jiwa Keagamaan pada
Remaja
a.
Pertumbuhan Pikiran dan Mental
b.
Perkembangan Perasaan
c.
Pertimbangan Sosial
d.
Perkembangan Moral:
a).
Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan
pribadi.
b).
Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c).
Submissive, perasaan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
d).
Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e).
Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan secara tatanan moral masyarakat.
e.
Sikap dan Minat
f.
Ibadah
F. Konflik dan Keraguan
1).
Kepercayaan, menyangkut masalah ke-Tuhanan dan implikasinya terutama (dalam
agama Kristen) status ke-Tuhanan sebagai Trinitas.
2).
Tempat Suci, menyangkut masalah pemuliaan dan pengagungan tempat-tempat suci
agama.
3).
Alat perlengkapan keagamaan, seperti fungsi salib dan rosario dalam kristen.
4).
Fungsi dan tugas staf dalam lembaga keagamaan.
5).
Pemuka agama, Biarawan dan Biarawati.
6).
Peradaban aliran dalam keagamaan, sekte (dalam agama Kristen), atau madzhab
(Islam).
Konflik
ada beberapa macam diantaranya:
1).
Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
2).
Konflik antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan serta
lembaga keagamaan.
3).
Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme.
4).
Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan
keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.
BAB
5
PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN PADA
ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT
A. Macam-macam Kebutuhan
1. Kebutuhan
Individual, terdirir dari:
a)
Homeostatis, yaitu kebutuhan
yang dituntut tubuh dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan.
b).
Regulasi temperatur, adalah
penyesuaian tubuh dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperatur
badan.
c).
Tidur merupakan kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi agar terhindar dari
gejala halusinasi.
d).
Lapar adalah kebutuhan biologis yang harus dipenuhi untuk membangkitkan energi
tubuh sebagai organis. Lapar akan menyebabkan gangguan pada fisik maupun
mental.
e).
Seks merupakan salah satu kebutuhan yang timbul dari golongan mempertahankan
jenis. Sigmund Freud menganggap kebutuhan ini sebagai kebutuhan vital pada
manusia.
f).
Melarikan diri yaitu kebutuhan manusia akan perlindungan, keselamatan jasmani
dan rohani. Usaha menghindarkan diri dari bahaya merupakan reaksi yang wajar
sebagai usaha proteksi.
g).
Pencegahan, yaitu kebutuhan manusia untuk mencegah terjadinya reaksi melarikan
diri. Dengan cara menekan, menantang atau menyalurkannya.
h).
Ingin tahu (curiosity), yaitu
kebutuhan rohani manusia untuk ingin selalu mengetahui latar belakang
kehidupannya. Kebutuhan ini mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya.
i).
Humor, yaitu kebutuhan manusia untuk mengendorkan beban kejiwaan yang
dialaminya dalam bentuk verbal atau perbuatan.
2. Kebutuhan Sosial
a).
Pujian dan Hinaan, menurut Guilford, kedua unsur ini merupakan faktor yang
menentukan dalam pembentukan sistem moral manusia.
b).
Kekuasaan dan Mengalah, Alfred Adler mengatakan, bahwa secara naluriah manusia
itu ingin berkuasa dan Nietrzche menyebutkan sebagai motif primer dalam
kehidupan manusia. Sedangkan Guilford berpendapat bahwa kebutuhan kekuasaan dan
mengalah ini tercermin dari adanya perjuangan manusia yang tak ada
henti-hentinya dalam kehidupan.
c).
Pergaulan, kebutuhan yang mendorong manusia untuk hidup dan bergaul sebagai homo-socius (makhluk bermasyarakat) dan zon-politicon (makhluk yang
berorganisasi).
d).
Imitasi dan Simpati, kebutuhan manusia dalam pergaulannya yang tercermin dalam
bentuk meniru dan mengadakan respon-emosionil.
e).
Perhatian, kebutuhan akan perhatian merupakan salah satu kebutuhan sosial yang
terdapat pada setiap individu. Besar kescilnya perhatian masyarakat terhadap
seseorang akan mempengaruhi sikapnya.
B. Sikap Keberagamaan pada Orang
Dewasa
Dengan
tingkat perkembangan usianya maka sikap keberagamaan orang dewasa antara lain
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan
sekedar ikut-ikutan.
2.
cendrung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan
dalam sikap dan tingkah laku.
3.
bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk
mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4.
tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri
hinga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.
bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6.
bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama
selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan
hati nurani.
7.
sikap keberagamaan cendrung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian
masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima,
memahami dan melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8.
terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial,
sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah
berkembang.
C. Manusia Usia Lanjut dan Agama
M.
Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Cavan yang mempelajari
1.200 orang sampel berusia antara 60-100 tahun. Temuan menunjukan secara jelas
kecendrungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada
umur-umur ini. Sedangkan, pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat
baru muncul sampai 100% setelah usia 90 tahun (Robert H. Thouless, 1992: 108). Para
ahli psikologi menghubungkan kecendrungan peningkatan keagamaan dengan
penurunan kegairahan seksual. Menurut pendapat ini karena usia lanjut mengalami
frustasi seksual dan penurunan kemampuan fisik sehingga membentuk sikap
keagamaan. Robert H. Thouless berpendapat bahwa meskipun kegiatan seksual
secara biologis tidak produktif lagi tapi kebutuhan untuk dicintai dan mencintai
masih ada (Robert H. Thouless, 1992: 108).
Mengenai
kehidupan keagamaan pada usia lanjut ini William James menyatakan bahwa umur
keagamaan yang sangat luar biasa tamoaknya justru terdapat pada usia, ketika
gejolak kehidupan seksual sudah berakhir (Robert H. Thouless, 1992: 107).
Secara garis beasar ciri-ciri keberagamaan pad usia lanjut adalah:
1.
kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2.
meningkatnya kecendrungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3.
mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih
sungguh-sungguh.
4.
sikap keagamaan cendrung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama
manusia, serta sifat-sifat luhur.
5.
timbul rasa takut pada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia
lanjutnya.
6.
perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap
keagamaan dan kepercayaan terhadap adamya kehidupan abadi (akhirat).
D. Perlakuan Terhadap Usia Lanjut
Menurut Islam
Dilingkungan
peradaban Barat, upaya untuk memberikan perlakuan manusiawi pada para manusia
usia lanjut dilakukan dengan menempatkan mereka di panti jompo. Di panti ini
para manusia usia lanjut itu mendapat perawatan yang intensif. Tindakan ini
diambil karena rasa kekhawatiran akan ketidak harmonisan dalam keluarga yang
terdapat manusia usia lanjut yang memiliki sikap dan tingkah laku yang berbeda
dengan mereka yang masih muda, anak atau cucu mereka. Meskipun mereka
meninginkan orang tuanya terawat dengan baik.
Lain
halnya dengan konsep yang dianjurkan oleh Islam. Perlakuan terhadap manusia
usia lanjut dianjurkan seteliti dan setelaten mungkin. Perlakuan terhadap orang
tua yang berusia lamjut dibebankan kepada anak-anak mereka, bukan kepada badan
atau panti asuhan, termasuk panti jompo. Allah menyebutkan pemeliharaan secara
khusus orang tua yang sudah lanjut usia dengan memerintahkan kepada anak-anak
meraka dengan memperlakukan orang tua mereka layaknya seorang bayi yang
memerlukan pemeliharaan dan perawatan serta perhatian khusus dengan penuh kasih
sayang. Penjelasan ini menunjukan bahwa perlakuan terhadap manusia usia lanjut
merupakan kewajiban agama menurut Islam. Maka sangat tercela dan durhaka jika
seorang anaka menelantarkan orang tua mereka di panti jompo.
BAB
6
KRITERIA ORANG YANG MATANG BERAGAMA
A.
Ciri-ciri dan Sikap Keberagamaan
1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The
Sick Soul)
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang
mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cendrung menampilkan sikap:
a.
Pesimis, dalam mengamalkan ajaran agama mereka cendrung untuk berpasrah diri
kepada nasib yang telah mereka terima. Mereka menjadi tahan menderita dan
segala penderitaan menyebabkan peningkatan ketaatannya.
b.
Introvert, sifat pesimis membuat mereka untik bersikap objektif. Segala bahaya
dan penderitaan selalu dihubungkan dengan dosa yang telah diperbuatnya, dengan
demikian mereka menebusnya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan
pensucian diri.
c.
Menyenangi faham yang ortodoks, sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan
jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham
keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.
d.
Mengalami proses keagamaan secara non-graduasi, timbulnya keyakinan beragama
pada mereka ini berlangsung melalui proses pendadakan dan perubahan yang
tiba-tiba, tidak secara bertahap atau melalui prosedur yang biasa.
2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa
(Healthy- Minded-Ness)
a.
optimis dan gembira
b.
ekstrovet dan mendalam, karena sikap optimis dan terbuka menyebabkan mereka mudah
melupakan kesan-kesan buruk yang tergores sebagai ekses relijiusitas
tindakannya.
c.
menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal:
1.
menyenangi teologi yang luwes dan tidak kaku.
2.
menunjukan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas.
3.
menekankan ajaran cinta kasih daripada kemurkaan dan dosa.
4.
mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.
5.
tidak menyenangi implikasi penebusan dosa dan kehidupan kebiaraan.
6.
bersifat liberal dalam menafsirkan pengertian ajaran agama.
7.
selalu berpandangan positif.
8.
berkembang secara graduasi.
B.
Mistisisme dan Psikologi Agama
Mistisisme
merupakan salah satu sisi dan pokok bahasan dalam psikologi agama. Mistisisme
dijumpai dalam semua agama, baik agama teistik (Islam, Kristen dan Yahudi) maupun
di kalangan mistik non-teistik (Budha, Hindu). Ciri khas mistisisme yang
pertama kali menarik para ahli psikologi agama adalah kenyataan bahwa
pengalaman-pengalaman mistik atau perubahan-perubahan kesadaran yang menjadi
puncaknya dalam kondisi yang digambarkannya sebagai kemanunggalan. Kondisi ini
digambarkan oleh mereka yang mengalami hal itu dirasakan sebagai pengalaman
menyatu dengan Tuhan.
Mistisisme
dalam kajian psikologi agama dilihat dari hubungan sikap dan prilaku agama
dengan gejala kejiwaan yang melatar belakanginya, bukan dilihat dari absah
tidaknya mistisisme itu berdasarkan pandangan agama masing-masing. Dengan
demikian, mistisisme menurut pandangan psikologi agama, hanya terbatas pada
upaya untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan tertentu yangterdapat pada
tokoh-tokoh tanpa harus mempermasalahkan agama yang mereka anut. Mistisime
merupakan gejala umum yang terlihat dalam kehidupan tokoh-tokoh mistik, baik
yang teistik maupun non-teistik.
BAB
7
AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL
A. Manusia dan Agama
Secara
psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari pada agama karena rasa
ketidak berdayaannya menghadapi bencana. Dengan demikian segala bentuk prilaku
keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari dorongan agar dirinya
terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu
manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya (Djamaluddin Ancok, 1994:71).
Agama
nampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran
manusia terhadap agama nampaknya di karenakan faktor-faktor tertentu baik yang
disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan masing-masing. Namun, untuk
menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan tampaknya
sulit dilakukan. Manusia ternyata memiliki unsur batin yang cendrung
mendorongnya untuk tunduk kepada zat yang gaib. Ketundukan ini merupakan bagian
dari faktor intern manusia yang dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi
(self) ataupun hati nurani (conscience of man).
B. Agama dan Pengaruhnya terhadap
Kesehatan Mental
Kesehatan
mental adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip,
peraturan-peraturan secara prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan
ruhani (M. Buchori, 1982:13). Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam
ruhani atau hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tentram ((M. Buchori,
1982:5). Dr. Breuer dan S. Freud memperkenalkan pengobatan dengan hipotheria
yaitu pengobatan dengan cara hipnotis. Dan kemudian dikenal pula adanya istilah
psikoterapi atau autoherapia (penyembuhan diri sendiri) yang dilakukan tanpa
menggunakan bantuan obat-obatan biasa.
Sesuai
dengan istilahnya, maka psikoterapi dan autoherapia digunakan untuk
menyembuhkan pasien yang menderita penyakit gangguan ruhani (jiwa). Sejumlah
kasus yang menunjukan adanya hubungan antara faktor keyakinan dengan kesehatan
jiwa atau mental tampaknya sudah disadari para ilmuan beberapa abad yang lalu.
C. Terapi Keagamaan
Orang
yang tidak merasa tenang, aman serta tentram dalam hatinya adalah orang yang
sakit ruhani atau mentalnya, menurut H. Carl Witherington (M. Buchori, 1982:
5). Para ahli psikiatri mengakui bahwa setiap manusia mempunyai
kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu yang diperlukan untuk melangsungkan proses
kehidupan secara lancar.
Di
dalam Al Qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran Islam banyak ditemui ayat-ayat
yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal yang
prinsipil dalam kesehatan mental ayat-ayat tersebut:
1.
Ayat tentang Kebahagiaan
a)
QS. Al Qashash: 77. Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang Islam untuk
merebut kebahagiaan akhirat dan kenikmatan dunia dengan jalan berbuat baik dan
menjauhi perbuatan mungkar.
b)
QS. An Nahl: 97. Dijelaskan dalam ayat ini, bahwa Allah menjanjikan kehidupan
yang baik kepada orang yang berbuat amal shaleh yang beriman.
c)
QS. Ali ‘Imran: 104. Pada ayat inipun dikatakan, bahwa Allah menjanjikan kepada
orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang mungkar.
2.
Ayat tentang Ketenangan Jiwa
a)
QS. Al Ra’d: 28. Dalam ayat tersebut Allah dengan jelas menegaskan bahwa,
ketenangan jiwa dapat dicapai dengan dzikir (mengingat) Allah.
b)
QS. Al ‘Araf: 35. Pada ayat ini dikatakan bahwa, rasa takwa dan perbuatan baik
adalah metode pencegahan dari rasa takut dan sedih.
c)
QS. Al Baqarah: 15. Ditegaskan pula dalam ayat ini bagaimana cara seseorang
mengatasi kesukaran dan problema kehidupan sehari-hari, yaitu dengan kesabaran
dan shalat.
d)
QS. Al Fath: 4. Pada ayat ini Allah menyifati diri-Nya bahwa Dia-lah Tuhan yang
Maha mengetahui dan bijaksana yang dapat memberikan ketenangan jiwa ke dalam
hati orang yang beriman.
D. Musibah
Musibah
merupakan pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan karena dianggap merugikan
oleh korban yang terkena musibah. Berdasarkan asal katanya, musibah berarti
lemparan (arramyah) yang kemudian digunakan dalam makna bahaya, celaka atau
berencana dan bala. Menurut Al Qurtubi, musibah adalah apa saja yang menyakiti
dan menimpa diri seseorang, atau sesuatu yang berbahay dan menyusahkan manusia,
betapapun kecilnya (Ensiklopedi Al Qur’an, 1997:283).
Dari
pendekatan agama, musibah dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, musibah yang
terjadi sebagai akibat dari ulah tangan manusia. Karena kesalahan yang
dilakukannya manusia harus menanggung akibatnya. Kedua, musibah sebagai ujian
dari Tuhan. Musibah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perbuatan
keliru manusia. Oleh karena itu, musibah ini sering dihubung-hubungkan dengan
takdir (ketentuan Tuhan).
E. Kematian
Kematian
adalah sebuah keniscayaan. Kematian membawa manusia ke alam kehidupan yang baru
yang sama sekali asing. Namun, manakala masih berada dalam kenikmatan hidup,
manusia sering lengah dan lupa dengan kematian.
1. Kematian dalam Agama
Setiap
agama mengajarkan tentang adanya hari kebangkitan. Alam baru dalam kehidupan
“lain” yang akan di alami oleh manusia mati. Dipercaya bahwa pada saat itu
manusia akan dihidupkan kembali guna diminta pertanggung jawabannya.
2. Psikologi Kematian
Secara
psikologis, manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa ketidak berdayaan.
Kelemahan fisik, keterbatasan gerak, dan menurunnya fungsi alat indera,
menyebabkan manusia usia lanjut merasa terisolasi. Saat itu, penghayatan
terhadap segala sesuatu yang terkait dengan nilai-nilai spiritual mulai jadi
perhatian. Kegelisahan dan kekosongan batin seakan terobati oleh keakraban
dengan aspek-aspek ruhaniah.
Kekosongan
batin akan kian terasa ketika dihadapkan pada peristiwa kematian. Terutama bila
dihadapkan pada kematian orang-orang terdekat atau dicintai. Muncul semacam
rasa kehilangan yang terkadang begitu berat dan sulit diatasi.
BAB
8
KEPRIBADIAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
A. Pengertian dan Teori Kepribadian
Individuality
adalah sifat khas seseorang yang menyebabkan seseorang mempunyai sifat
berbedada dari orang lain. Wetherington mendefinisikan kepribadian itu adalah
istilah untuk menyebutkan tingkah laku seseorang secara terintegrasikan dan
bukan hanya beberapa aspek saja dari keseluruhan itu. Menurut William Stern,
kepribadian adalah suatu kesatuan banyak (multi complex) yang diarahkan kepada
tujuan-tujuan tertentu dan mengandung sifat-sifat khusus individu, yang bebas
menentukan dirinya sendiri. Sedangkan menurut Prof. Kohnstamm, orang yang
berkepribadian adalah orang yang berkeyakinan ke-Tuhanan.
B. Tipe-tipe Kepribadian
a.
tipe pemikiran terbuka, dengan sifat-sifatnya: yang cendrung
berbuat secara praktis dan memanfaatkannya dalam kehidupan.
b.
tipe pemikiran tertutup, dengan sifat-sifatnya: cendrung menekuni
pemikiran yang bersifat abstrak sehingga kurang memanfaatkan implementasi
pemikiran dalam bentuk perbuatan nyata.
c.
tipe perasaan terbuka, dengan sifat-sifatnya: yang cendrung
untuk ikut merasakan perasaan orang lain.
d.
perasaan tertutup, dengan sifat-sifatnya: kehidupan
mentalnya dikuasai oleh perasaan yang mendalam, sehingga mereka senang
menyendiri, mencintai dan membenci sesuatu secara bersangkutan karena selalu
dikuasai oleh perasaan yang tajam.
e.
tipe penginderaan terbuka, dengan sifat-sifatnya:
memiliki kehidupan pikiran dan perasaan yang dangkal. Kehidupan mentalnya
dipengaruhi perangsangan lingkungan yang diterimanya dan mudah bosan terhadap
sesuatu, jiwa labil dan kurang mantap.
f.
tipe penginderaan tertutup, dengan
sifat-sifatnya: cendrung untuk menenggelamkan diri oleh pengaruh perangsang
luar sebagai hasil penginderaan.
g.
tipe intuisi terbuka, dengan sifat-sifatnya: cendrung
untuk bersifat avont turir karena mereka selalu akan melaksanakan secara
langsung setiap apa yang terlintas dalam pikirannya. Mereka selalu yakin
terhadap kebenaran lintasan pikiran itu.
h.
tipe intuisi tertutup, dengan sifat-sifatnya: cendrung untuk membuat keputusan
yang cepat dan tajam tanpa didasarkan atas bukti yang objektif.
C. Hubungan Kepribadian dan Sikap
Keagamaan
1. Sigmund Freud
Sigmund
Freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga macam, yaitu:
a)
Id
(Das Es). Sebagai suatu sistem id
mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran
dorongan naluriah.
b)
Ego
(Das Es). Merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke
dalam keadaan yang nyata.
c)
Super
Ego (Das Uber Ich). Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan
keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal.
2. H.J Eysenck
a) Specific response,
yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian
tertentu, jadi khusus sekali.
b) Habitual response, yaitu
respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau
situasi yang sama.
c) Trait,
yaitu terjadi saat habitual respon yang saling berhubungan satu sama lain, dan
cendrung ada pada individu tertentu.
d) Type,
yaitu organisasi di dalam individu yang lebih umum dan mencakup.
3. Sukanto M.M
a)
Qalb (angan-angan kehatian).
b)
Fuad (perasaan/hati nurani/ulu hati).
c)
Ego (aku sebagai pelaksana dari kepribadian).
d)
Tingkah laku (wujud dari gerakan)/
D. Dinamika Kepribadian
Unsur-unsur
dinamika kepribadian seseorang, yaitu:
1.
energi ruhaniah, yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas ruhaniah. Seperti
berpikir, mengingat, mengamati, dan sebagainya.
2.
naluri, yangberfungsi sebagai pengatur kebutuhan primer. Seperti makan, minum,
dan seks.
3.
ego, yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan
aktivitas penyesuaian doronga-dorongan yang ada dengan kenyataan objektif
(realitas).
4.
super ego, yang berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin baik berupa
penghargaan (rasa puas, senang, berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah,
berdosa, menyesal).
BAB
9
PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA
KEAGAMAAN
A. Tradisi Keagamaan dan Kebudayaan
Tradisi
menurut Parsudi Suparlan, Ph.D merupakan unsur sosial budaya yang telah
mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah (Parsudi Suparlan, 1987:
115). Meredith Mc Guire melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi
erat kaitannya dengan mitos dan agama (Mc Guire, 1984: 338). Menurut Parsudi
Suparlan, para sosiolog mengidentifikasikan adanya pranata primer. Menurut
Rodaslav A. Tsanoff, pranata keagamaan ini mengandung unsur-unsur yang
berkaitan dengan ke-Tuhanan atau keyakinan, keagamaan, perasaan yang bersifat
mistik (Mc Guire, 1984: 4). Dengan demikian, tradisi keagamaan sulit berubah
karena selain didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur-unsur yang
memiliki nilai-nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat.
Tradisi
keagamaan (bagi agama samawi) bersumber dari norma-norma yang termuat dalam
kitab suci. Bila kebudayaan sebagai cetak biru bagi kehidupan (Kluckhohn) atau
sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat (Parsudi Suparlan). Dengan demikian,
hubungan antara tradisi keagamaan dengan kebudayaan terjalin sebagai hubungan
timbal balik. Makin kuat tradisi keagamaan, makin terlihat peran akan makin
dominan pengaruhnya dalam kebudayaan. Sebaliknya, makin sekuler suatu
masyarakat maka pengaruh tradisi keagamaan dalam kehidupan masyarakat akan kian
memudar.
B. Tradisi Keagamaan dan Sikap
Keagamaan
Tradisi
keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi, sikap keagamaan mendukung
terbentuknya tradisi keagamaan, sedangkan tradisi keagamaan sebagai lingkungan
kehidupan turut memberi nilai-nilai, norma-norma pola tingkah laku keagamaan
pada seseorang. Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan
bagian dari pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang
dianutnya. Sekap keagamaan ini kan ikut mempengaruhi cara berpikir, cita rasa,
ataupun penilaian seseorang terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan
agama.
Tradisi
keagamaan dalam pandangan Robert C. Monk memiliki dua fungsi utama yang
mempunyai peran ganda, yaitu bagi masyarakat maupun individu. Fungsi yang
pertama, sebagai kekuatan yang mampu membuat kestabilan dan keterpaduan
masyarakat maupun individu. Sedangkan fungsi yang kedua, tradisi keagamaan
berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau dari individu, bahkan
dalam situasi terjadinya konflik sekalipun (Robert C. Monk, 1979: 262). Dalam
konteks pendidikan, tradisi keagamaan merupakan isi pendidikan yang bakal
diwariskan generasi tua ke generasi muda.
BAB
10
PROBLEMA DAN JIWA KEAGAMAAN
A. Sikap Keagamaan dan Pola Tingkah
Laku
Menurut
Prof. Dr. Mar’at, meskipun belum lengkap Allport telah menghimpun sebanyak 13
pengertian megenai sikap. Dari 13 pengertian itu dapat dirangkum menjadi 11
rumusan mengenai sikap, yaitu:
1.
sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi
yang terus menerus dengan lingkungan (attituides are learned).
2.
sikap selalu dihubungkan dengan objek seperti manusia, wawasan, peristiwa
ataupun ide (attituade have referent).
3.
sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di rumah, sekolah,
tempat ibadah ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan atau percakapan
(attituides are social learnings).
4.
sikap sebagai wujud dari kesepian untuk bertindak dengan cara-cara tertentu
terhadap objek (atituides have readiness to respond).
5.
bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif, seperti yang tampak
dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif atau ragu (attituides are
affective).
6.
sikap memiliki tingkat intensitas terhadap objek tertentu yakni kuat atau lemah
(attituides are very intensive).
7.
sikap bergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasidan saat
tertentu mungkin sesuai, sedangkan disaat dan situasi yang berbeda belum tentu
cocok (attituides have a time dimension).
8.
sikap dapat bersifat relatif consistent dalam sejarah hidup individu
(attituides have duration factor).
9.
sikap merupakan bagian dari konteks persepsi ataupun kognisi individu
(attituides are complex).
10.
sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi
tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan (attituides are evaluation).
11.
sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang
sempurna atau bahkan tidak memadai (attituides are inferred).
B. Sikap Keagamaan yang Menyimpang
Sikap
keagamaan yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan
keyakinan agama yang dianutnya mengalami perubahan. Perubahan sikap seperti itu
bisa terjadi pada orang per-orang (dalam diri individu) atau pada kelompok atau
masyarakat. Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan
intensitas yang mngkin berbeda dan bergerak secara continue dari positif
melalui arel netral ke arah negatif 9Mar’at, 1982:17). Dengan demikian, sikap
keagamaan yang menyimpang sehubungan dengan perubahan sikap tidak selalu
berkonotasi buruk.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Sikap Keagamaan yang Menyimpang
a) Faktor Intern
1.
Kepribadian, secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi jiwa
seseorang.
2.
Faktor bawaan, ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi
penyimpangan agama.
b) Faktor Ekstern
1.
Faktor Keluarga. Keretakan keluarga, ketidak serasian, berlainan agama, kesepian,
kurang mendapat pengakuan kerabat dan lainnya.
2
. Lingkungan tempat tinggal
3.
Perubahan Status, misalnya: perceraian.
4.
Kemiskinan
BAB
11
PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA
KEAGAMAAN
A. Pendidikan Keluarga
Bayi
yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh
berbagai kemampuan yang bersifat bawaan (W.H. Clark, 1964:2). Keluarga menurut
para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah
kedua orang tua sebagai pendidik kodrati.
Pendidikan
keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan.
Perkembangan agama menurut W.H. Clark berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan
sehingga sulit untuk diidentifikasi secara jelas, karena masalah yang
menyangkut kejiwaan, manusia demikian rumit dan kompleksnya. Namun demikian,
melalui fungsi-fungsi jiwa yang masih sederhana tersebut, agama terjalin dan
terlibat di dalamnya. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini
pulalah agama itu berkembang (W.H. Clark, 1964:4). Dalam kaitan itu pula
terlihat peran pendidikan keluarga dalam menanamkan jiwa keagamaan pada anak.
B. Pendidikan Kelembagaan
Fungsi
dan peran sekolah sebagai kelembagaan pendidikan adalah pelanjut dari
pendidikan keluarga. Karena keterbatasan orang tua untuk mendidik anak-anak
mereka, maka mereka diserahkan ke sekolah-sekolah.
Pendidikan
agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan
jiwa keagamaan pada anak. Namun demikian, besar kecilnya pengaruh tersebut
sangat tergantung pada berbagai faktor yang dapat memotivasi anak untuk
memahami nilai-nilai agama. Sebab, pendidikan agama pada hakikatnya merupakan
pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada
bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.
C. Pendidikan di Masyarakat
Masyarakat
merupakan lapangan pendidikan yang ketiga. Para pendidik umumnya sependapat
bahwa lapangan pendidikan yang ikut mempengaruhi perkembangan anak didik adalah
keluarga, kelembagaan pendidikan danlingkungan masyarakat. Keserasian antara
ketiga lapangan pendidikan ini akan memberi dampak yang positif bagi
perkembangan anak, termasuk dalam pembentuka jiwa keagamaan mereka.
D. Agama dan Masalah Sosial
Tumbuh
dan berkembangnya kesadaran agama (religious consciouness) dan pengalaman agama
(religious experience), ternyata melalui proses yang gradual, tidak sekaligus.
Pengaruh luar sangat berperan dalam menumbuh kembangkannya, khususnya
pendidikan. Adapun pendidikan yang paling berpengaruh yakni pendidikan dalam
keluarga. Apabila di lingkungan keluarga anak-anak tidak diberikan pendidikan
agama biasanya sulit untuk memperoleh kesadarn dan pengalaman agama yang
memadai.
BAB
12
GANGGUAN DALAM PERKEMBANGAN JIWA
KEAGAMAAN
A. Faktor Intern
1.
Faktor Hereditas
2.
Tingkat Usia
3.
Kepribadian
4.
Kondisi Kejiwaan
B. Faktor Ekstern
1.
Lingkungan Keluarga
2.
Lingkungan Institusional
3.
Lingkungan Masyarakat
C. Fanatisme dan Ketaatan
Suatu
tradisi keagamaan membuka peluang bagi warganya untuk berhubungan dengan warga
yang lain (sosialisasi). Selain itu juga terkjadi hubungan dengan benda-benda
yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi), seperti
institusi keagamaan dan sejenisnya.
David
Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter yaitu: 1. Arahan tradisi (tradition
directed) 2. Arahan dalam (inner directed) 3. Arahan orang lain (other
directed). Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama agaknya tak dapat
dilepaskan dari peran aspek emosional. Jika kecendrungan taklid keagamaan
tersebut dipengaruhi unsur emosional yang berlebihan, maka terbuka peluang bagi
pembenaran spesifik. Kondisi ini akan menjurus kepada fanatisme. Sifat
fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama.
BAB
13
AGAMA DAN PENGARUHNYA DALAM
KEHIDUPAN
A. Agama dalam Kehidupan Individu
Agama
dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang memuat
norma-norma tertentu. Secara umum norma-norma tersebut menjadi kerangka acuan
dalam bersikap dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang
dianutnya. Sebagai sistem nilai agama memiliki arti yang khusus dalam kehidupan
individu serta dipertahankan sebagai bentuk ciri khas.
Menurut
Mc Guire, sistem nilai yang berdasarkan agama dapat memberi individu dan
masyarakat perangkat sistem nilai dalam bentuk keabsahan dan pembenaran dalam
mengatur sikap individu dan masyarakat (Mc Guire:26). Pengaruh sistem nilai
terhadap kehidupan individu karena nilai sebagai realitas yang abstrak
dirasakan sebagai daya dorong atau prinsip yang menjadi pedoman hidup. Dalam realitasnya
nilai memiliki pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola berfikir dan
pola bersikap (E. M Kaswadi, 1993:20).
B. Fungsi Agama dalam Kehidupan
Masyarakat
Dalam
prakteknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain:
1.
Berfungsi Edukati
2.
Berfungsi Penyelamat
a.
Theopahania spontanea: kepercayaan bahwa Tuhan dapat dihadirkan dalam
benda-benda tertentu: tempat angker, gunung, arca dan lainnya.
b.
Theophania innocativa: kepercayaan bahwa Tuhan hadir dalam lambang karena
dimohon, baik melalui invocativa magis (mantera, dukun) maupun invocativa
religius (permohonan, doa, kebaktian dan sebagainya).
3.
Berfungsi sebagai Pendamaian
4.
Berfungsi sebagai Social Control
a.
Agama secara instansi, merupakan norma bagi penganutnya.
b.
Agama secara dogmatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis
(wahyu, kenabian).
5.
Berfungsi sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas
6.
Berfungsi Transformatif
7.
Berfungsi Kreatif
8.
Berfungsi Sublimatif
C. Agama dan Pembangunan
Prof.
Dr. Mukti Ali mengemukakan bahwa peranan agama dalam pembangunan adalah:
1.
sebagai ethos pembangunan. Maksudnya adalah bahwa agama yang menjadi anutan
seseorang atau masyarakat jika diyakini dan dihayati secara mendalam mampu
memberikan suatu tatanan nilai moral dan sikap.
2.
sebagai motivasi. Ajaran agama yang sudah menjadi keyakinan mendalam akan
mendorong seseorang atau kelompok untuk mengejar tingkat kehidupan yang lebih
baik.
Sumbangan
harta benda dan milik untuk kepentingan masyarakat yang berlandaskan ganjaran
keagamaan telah banyak dinikmati dalam pembangunan, misalnya:
a.
hibbah dan wakaf tanah untuk pembangunan jalan, sarana ibadah ataupun lembaga
pendidikan.
b.
dana yang terpakai untuk pembangunan lembaga pendidikan dan rumah-rumah ibadah,
rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya.
c.
pengerahan tenaga yang terkoordinasi oleh pemuka agama dalam membina
kegotongroyongan.
BAB 14
TINGKAH LAKU KEAGAMAAN YANG
MENYIMPANG
A. Aliran Klenik
Klenik
diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan
hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal (KBRI, 1989:04). Aliran
klenik sebagai bagian dari bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang akan
senantias muncul dalam setiap masyarakat, apapun latar belakang kepercayaannya.
Prilaku keagamaan yang menyimpang ini umumnya menyebabkan orang menutup diri
dari pergaulan dengan dunia luar. Dengan demikian, mereka membentuk kelompok
yang eksklusif, dalam kondisi yang seperti itu mereka sulit untuk didekati.
Aliran-aliran
klenik ini kemudian dapat pula berkembang menjadi aliran kepercayaan dan aliran
kebatinan. Dan menurut Prof. Dr. Hamka, aliran ini timbul oleh kekacauan
pikiran lantaran kacaunya ekonomi, sosial, dan politik, hingga mendorong
masyarakat untuk melepaskan pikirannya dari pengaruh kenyataan, lalu masuk ke
dalam daerah khayalan tasawuf. Kadang-kadang mereka merasa menganut agama yang
berdiri sendiri, bukan Islam, bukan Budha, bukan Kristen (Hamka, 1976:133-234).
B. Konversi Agama
1. Pengertian Konversi Agama
a.
secara etimologi berasala dari kata “conversio” yang berarti: tobat, pindah,
dan berubah (agama). Dalam bahasa Inggris “conversion” yang berarti: berubah
dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain.
b.
secara terminologi, menurut Max Heirich adalah suatu tindakan dimana seseorang
atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau
prilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
Selain
itu, konversi agama memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
1.
adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
2.
perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat
terjadi secara berproses atau secara mendadak.
3.
perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu
agam ke agama lain, juga perpindahan pandangan terhadap agama yang dianutnya.
4.
selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan
faktor petunjuk dari yang Maha Kuasa.
2. Faktor yang Menyebabkan
terjadinya Konversi Agama
a.
para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya
konversi agama adalah petunjuk ilahi.
b.
menurut para ahli sosiologi terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial
yang terdiri dari beberapa faktor antara lain:
1.
pengaruh pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non-agama.
2.
pengaruh kebiasaan yang rutin.
3.
pengaruh anjuran atau propaganda dari orang yang terdekat.
4.
pengaruh pemimpin keagamaan.
5.
pengaruh perkumpulan yang bedasarkan hobi.
6.
pengaruh kekuasaan pemimpin.
C. Konflik Agama
1.
Pengetahuan Agama yang Dangkal
2.
Fanatisme
3.
Agama sebagai Doktrin
Ada
kecendrungan di masyarakat, bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat
normatif. Pemahaman demikian menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang kaku.
4.
Simbol-simbol
5.
Tokoh Agama
Tokoh
agama kemungkinan akan mengeluarkan sejumlah fatwa agama yang dapat mengobarkan
semangat para pengikutnya.
6.
Sejarah
7.
Berebut Surga
D. Terorisme dan Agama
Terorisme
berasal dari kata teror, secara etimologis mencakup arti: 1. Perbuatan
(pemerintah dan sebagainya), 2. Usaha menciptakan ketakutan, dan kekejaman oleh
seseorang atau kelompok. Sedangkan terorisme berarti penggunaan kekerasan atau
menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai satu tujuan, terutama tujuan politik
(KBBI, 1990:939).
1.
Fundamentalis
Fundamentalis
menurut Thomas Meyer sebenarnya telah ada sejak modernisasi budaya sebagai
implus terbalik yang inheren. Kemudian Thomas merinci empat karakter gerakan
fundamentalis: 1) penggunaan tidak tepat atas keseluruhan isi Al Kitab, 2)
pernyataan bahwa senua teologi, agama, dan ilmu pengetahuan adalah tidak
berlaku, 3) keyakinan. 4) keyakinan yang pasti untuk membatalkan pemisahan
modern atas gereja dan negara, agama dan politik, dengan cara
menginterpretasikan agama sebagai jalan masing-masing bilamana ketentuan
hukum/politik dalam masalah krusuial bertentangan etika masing-masing.
2.
Radikalisme
Gerakan
radikalisme menuntut persamaan hak, fungsi, dan peran dengan kaum pria. Radikalisme
sebagai paham atau aliran, sebenarnya berpeluang muncul dalam berbagai bidang
kehidupan. Tuntutan terhadap perubahan yang drastis dan cepat dapat terjadi di
bidang politik, militer, ekonomi, dan sebagainya. Radikalisme pada dasarnya
merupakan gerakan pendobrak terhadap kondisi yang mapan, karena didorong oleh
keinginan untuk menciptakan suatu kondisi baru yang diinginkan, dengan cara
yang cepat.
E. Fatalisme
Sikap
pasrah yang mengarah kepada fatalisme dapat dikategorikan sebagi tingkah laku
keagamaan yang menyimpang, sikap seperti ini setidaknya mengabaikan fungsi dan
peran akal secara normal. Padahal agama menempatkan akal pada kedudukan yang
tinggi. Dengan akal manusia mampu membangun peradaban melalui pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Islam sendiri dalam ajarannya memposisikan akal tuk
mengiringi keimanan dalam menentukan derajat pemeluknya. Secara psikologi , ada
sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya fatalisme, yaitu:
1.
Pemahaman yang Keliru
Sebagai
manusia biasa, para agamawan memiliki latar belakang sosio-kultural, tingkat
pendidikan, maupun kapasitas yang berbeda. Dalam kondisi itu terbuka peluang
timbulnya “salah tafsir” dalam memahami pesan-pesan kitab suci maupun risalah
rasul sehingga menyebabkan fatalisme.
2.
Otoritas Agamawan
Dalam
komunitas agama selalu ada pemimpin agama atau agamawan yang jadi panutuan
pemeluk agamanya. Umumnya reputasi ketokohan dari si pemimpin agama itu
ditentukan oleh kusntitas pendukungnya, bukan didasarkan kualitas keagamaan.
Tanpa disadari tak jarang gejala seperti itu turut berengaruh terhadap ego para
pemuka agama, popularitas yang dicapai sering dianggap sebagai sukses diri
pribadi ini harus senantiasa dipertahankan dan bila perlu ditingkatkan.
Dalam
kondisi sepert ini terkadang dengan menggunakan otoritasnya yang berlebihan,
pemimpin agama terjebak kepada upaya untuk memitoskan ajaran agama. Pemimpin
agama ini berusaha menciptakan situasi psikologi pengikutnya melalui otoritas
keagamaan yang ia miliki, hingga mempengaruhi terbentuknya sikap penurut.
Inilah salah satu faktor terjadinya fatalisme dalam agama.
BIODATA PENULIS
Nama:
Jalaluddin, dilahirkan di Belinyu (bangka), tanggal 10 Desember 1942.
Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) Negri Belinyu, tamat tahun 1955/1956. Selanjutnya
menamatkan Sekolah Guru B (SGB) Negri di Pangkalpinang tahun1959. Lalu
melanjutkan ke Kursus Guru Atas (KGA) di Palembang, dan tamat tahun 1964.
Antara tahun 1964 hingga 1967, menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam
Fatahilah untuk tingkat Sarjana Muda.
Pendidikan
untuk tingkat Sarjana Lengkap (S1) diselesaikan tahun1973, pada Fakultas
Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. Kemudian pada tahun1985 melanjutkan ke
Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan menyelesaikan
program doktor ilmu-ilmu keislaman dengan konsentrasi pemikiran pendidikan
Islam.
Setelah
menyelesaikan SGB, bertugas sebagai guru di SRN Mantung (Belinyu), hingga tahun
1961. Selanjutnya selama mengikuti pendidikan KGA, bertugas sebagai guru di
berbagai SD di Kota Palembang. Sejak tahun 1967 pindah menjadi pegawai di
Departemen Agama dan ditugaskan di Madrasah Tsanawiyah Negri (MTsN), Madrasah
Aliyah Agama Islam Negri (MAAIN), serta Pendidikan Guru Agama Negri 6 tahun
(PGAN) di kota Palembang.
Setelah
menyelesaikan tugas sebagai guru (tahun 1980), lalu dialih tugaskan sebagai
dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang (1980-1982). Kemudian
menjabat sebagai kepala seksi Pendidikan Guru Agama pada Balai Diklat Pegawai
Teknis Keagamaan Palembang (1982-1984). Selanjutnya sejak tahun 1984 pindah
tugas menjadi dosen Fakultas Tarbiyah hingga sekarang.
Setelah
menyelesaikan program doktor, ditempatkan sebagai Kepala Balai Penelitian
hingga tahun1996, kemudianmenjabat selaku pembantu Rektor I, dan dari tahun
1999-2003 dipercaya untuk menduduki jabatan Rektor IAIN Raden Fatah, Palembang.
Selama menduduki jabatan tersebut sempat mengikuti Kursus Singkat Angkatan (KSA
X) Lemhanas di Jakarta, tahun 2002.
Selama
masa tugas dan pendidikan, sempat menulis sejumlah buku, artikel dan makalah.
Disertasi berjudul Santi Asromo KH. Abdul
Halim: Studi tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Adapun
buku-buku yang sempat diterbitkan antara lain: Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan (1997), Tokoh Wanitah sebelum dan sesudah Islam (terjemahan, 1979), Pengantar Ilmu Jiwa Agama (1989), Kapita Selekta Pendidikan (1989), Metode Tunjuk Silang: Pelajaran Membaca Al
Qur’an Secara Praktis (1989), Filsafat
Pendidikan Islam (1994), Mempersiapkan
Anak Saleh (1995), Psikologi Agama
(1998), dan Teologi Pendidikan
(2000).
Hingga
sekarang tugas tetap sebagai dosen pada Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah
Palembang.
Ada versi buku aslinya?
BalasHapustolong latarnya jangan hitam, mata saya sakit membacanya seperti membaca buku di ruang gelap...
BalasHapusIzin copas
BalasHapusMaaf,jika saya sudah copy paste,saya membutuhkan materi ini,sebagai bahan pembelajaran saya.
BalasHapusterimakasih ini sangat membantu, saya mencari buku ini bentuf pdfnya ngga ada .
BalasHapus