JILBAB DAN
KORUPSI
Maraknya kasus korupsi belakangan
ini, membuat banyak orang menyerang syari’at dan simbol-simbolnya. Para phobia islam bermunculan bagai pahlawan
bertopeng ingin menelanjangi bahwa syari’at sebagai pedoman hidup tidak berarti
apa-apa. Ia sama sekali tidak efektif melawan penyakit korupsi.
Memang, dia tidak terang-terangan
menyerang syari’at. Tetapi membidik simbol-simbolnya dengan membenturkan
prilaku buruk korupsi. Kini, jilbab dan MUI yang dibidik. Semua orang setuju
korupsi itu tercela. Bukan saja bertentangan dengan agama, tetapi juga oleh
kelompok masyarakat yang menolak agama. Di cina yang negaranya menganut faham
komunis saja, korupsi dianggap kejahatan dan pelakunya bisa digantung. Artinya,
dari sudut mana pun korupsi itu dilihat, dia tetaplah buruk. Lalu jika ada
orang beragama melakukan korupsi, apa agamanya yang salah?
Koplak!
“Melihat Chacha yang berjilbab,
wajar bila orang bertanya apakah jilbab dan agama menjauhkan orang dari
maksiat?” kata si udin.
“Maksudnya apa?” tanya Kyai Obing.
“Masa jilbaban gitu korupsi?”
“Dia belum diadili. Belum ada
keputusan final. Jangan dihakimi dulu, dong.”
“Oke. Tapi satu hal, apa dia tidak
malu pake jilbab tetapi berbuat korupsi? Itu artinya, syari’at jilbab tidak
bisa membuat pelakunya tidak maksiat. Korupsi itu maksiat, kyai,” kata si Umar.
“Tuh, kan?
“Berarti ente kagak ngarti syari’at
jilbab”.
“Saya ngerti, kyai.”
“Kalau ente ngerti, kagak bakalan
ngomong gitu?”
“Loh, saya harus ngomong apa lagi?
Orang berjilbab korupsi, apa itu bukan paradoks?”
“Jilbab itu bukan untuk menangkal
orang supaya tidak berbuat korupsi. Jilbab itu gunanya untuk nutupin aurat,
Umar!!”
Gubrak!!!
Wkwkwk.....
Kyai Obing mulai bikin lawan
bicaranya mual-mual. Kyai Obing tahu persis, si umar bukan fokus pada kasus
korupsinya, tetapi pada jilbabnya. Dia memang getol menghantam syari’at, dan
saat dia menemukan perempuan berjilbab melakukan tindakan pidana korupsi, celah
itu dimanfaatkannya untuk menghantam syari’at jilbab. Itu intinya.
Dalam Islam, seperti yang dimengerti
Kyai Obing, korupsi tetap haram dilakukan baik pelakunya berjilbab atau
plontos. Tak ada bedanya, sebab dasar keharaman korupsi itu bukan pada pakai
jilabab atau tidak, tapi ada pada nash
(dalil) yang secara tegas menjelaskan larangan prilaku korupsi. Nash itu tidak ada hubungannya
sedikitpun dengan jilbab.
”Lho, kok melotot?” tanya Kyai
Obing.
“Pertanyaan saya, apa tidak malu
pake jilbab terus korupsi?” si Umar balik nanya.
“Harus malu,” jawab Kyai Obing
tegas.
“Hehehe....Itu sama saja pake jilbab
tidak membuat orang malu untuk korupsi,” si Umar tertawa, balik lagi logikanya.
“Terus, si Miranda Gultom atau
Arthalita Suryani yang juga terlibat korupsi kagak perlu malu karena kagak pake
jilbab, begitu?”
Twew!
Si Umar bungkam.
Korupsi bisa dilakukan siapa saja.
Pelakunya bisa beragama apa saja. Tapi, oleh si Umar, yang diekspos hanya yang
muslim dan berjilbab. Akal-akalan begitu, oleh Kyai Obing sudah bisa dibaca.
Itulah akal bulus Islamophobia.
Apakah Miranda Gultom itu seorang
muslimah? Apakah para pengemplang terbesar BLBI sebesar 600 triliyun itu
orang-orang islam? Apa para taipan yang kabur membawa lari duit tilepan dan dia parkir di Singapura
orang-prang muslim? Terus, orang-orang yang memberi kemudahan, yakni para
penguasa ekuin saat itu seperti Radius Prawiro, JB. Sumarlin, dan Frans Seda,
mereka itu siapa?
Korupsi itu juga dilakukan di
negara-negar komunis. Rusia, cina, korut, yang semuanya bermazhab
ateis-komunis, korupsinya juga sangat kuat dan merajalela. Sekali lagi korupsi
adalah soal mental. Asalkan mental orang itu berkomitmen menuruti perintah
agama atau hukum negaranya, dia akan malu melakukannya.
“Tapi bagi saya, itu tetap paradoks.
Sebaiknya copot saja jilbabnya!” kata si Umar sewot.
“Lho, kenapa harus dicopot
jilbabnya? Yang benar itu hukum saja pelaku korupsinya.”
“Percuma!”
“Jilbab itu untuk nutup auratnya,
bukan kejahatannya!” Kyai Obing ngoto.
“Enggak ngaruh! Buktinya dia tetap
melanggar hukum!”
“Apa kalau ente melanggar hukum,
ente mau celana ente dicopot supaya aurat ente ngablak di muka umum?”
Gubrak!!!
Qiqiqi.......
Wkwkwk......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar