Sabtu, 14 November 2015

cerpen

JILBAB DAN KORUPSI

            Maraknya kasus korupsi belakangan ini, membuat banyak orang menyerang syari’at dan simbol-simbolnya. Para phobia islam bermunculan bagai pahlawan bertopeng ingin menelanjangi bahwa syari’at sebagai pedoman hidup tidak berarti apa-apa. Ia sama sekali tidak efektif melawan penyakit korupsi.
            Memang, dia tidak terang-terangan menyerang syari’at. Tetapi membidik simbol-simbolnya dengan membenturkan prilaku buruk korupsi. Kini, jilbab dan MUI yang dibidik. Semua orang setuju korupsi itu tercela. Bukan saja bertentangan dengan agama, tetapi juga oleh kelompok masyarakat yang menolak agama. Di cina yang negaranya menganut faham komunis saja, korupsi dianggap kejahatan dan pelakunya bisa digantung. Artinya, dari sudut mana pun korupsi itu dilihat, dia tetaplah buruk. Lalu jika ada orang beragama melakukan korupsi, apa agamanya yang salah?
            Koplak!
            “Melihat Chacha yang berjilbab, wajar bila orang bertanya apakah jilbab dan agama menjauhkan orang dari maksiat?” kata si udin.
            “Maksudnya apa?” tanya Kyai Obing.
            “Masa jilbaban gitu korupsi?”
            “Dia belum diadili. Belum ada keputusan final. Jangan dihakimi dulu, dong.”
            “Oke. Tapi satu hal, apa dia tidak malu pake jilbab tetapi berbuat korupsi? Itu artinya, syari’at jilbab tidak bisa membuat pelakunya tidak maksiat. Korupsi itu maksiat, kyai,” kata si Umar.
            “Tuh, kan?
            “Berarti ente kagak ngarti syari’at jilbab”.
            “Saya ngerti, kyai.”
            “Kalau ente ngerti, kagak bakalan ngomong gitu?”
            “Loh, saya harus ngomong apa lagi? Orang berjilbab korupsi, apa itu bukan paradoks?”
            “Jilbab itu bukan untuk menangkal orang supaya tidak berbuat korupsi. Jilbab itu gunanya untuk nutupin aurat, Umar!!”
            Gubrak!!!
            Wkwkwk.....
            Kyai Obing mulai bikin lawan bicaranya mual-mual. Kyai Obing tahu persis, si umar bukan fokus pada kasus korupsinya, tetapi pada jilbabnya. Dia memang getol menghantam syari’at, dan saat dia menemukan perempuan berjilbab melakukan tindakan pidana korupsi, celah itu dimanfaatkannya untuk menghantam syari’at jilbab. Itu intinya.
            Dalam Islam, seperti yang dimengerti Kyai Obing, korupsi tetap haram dilakukan baik pelakunya berjilbab atau plontos. Tak ada bedanya, sebab dasar keharaman korupsi itu bukan pada pakai jilabab atau tidak, tapi ada pada nash (dalil) yang secara tegas menjelaskan larangan prilaku korupsi. Nash itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan jilbab.
            ”Lho, kok melotot?” tanya Kyai Obing.
            “Pertanyaan saya, apa tidak malu pake jilbab terus korupsi?” si Umar balik nanya.
            “Harus malu,” jawab Kyai Obing tegas.
            “Hehehe....Itu sama saja pake jilbab tidak membuat orang malu untuk korupsi,” si Umar tertawa, balik lagi logikanya.
            “Terus, si Miranda Gultom atau Arthalita Suryani yang juga terlibat korupsi kagak perlu malu karena kagak pake jilbab, begitu?”
            Twew!
            Si Umar bungkam.
            Korupsi bisa dilakukan siapa saja. Pelakunya bisa beragama apa saja. Tapi, oleh si Umar, yang diekspos hanya yang muslim dan berjilbab. Akal-akalan begitu, oleh Kyai Obing sudah bisa dibaca. Itulah akal bulus Islamophobia.
            Apakah Miranda Gultom itu seorang muslimah? Apakah para pengemplang terbesar BLBI sebesar 600 triliyun itu orang-orang islam? Apa para taipan yang kabur membawa lari duit tilepan dan dia parkir di Singapura orang-prang muslim? Terus, orang-orang yang memberi kemudahan, yakni para penguasa ekuin saat itu seperti Radius Prawiro, JB. Sumarlin, dan Frans Seda, mereka itu siapa?
            Korupsi itu juga dilakukan di negara-negar komunis. Rusia, cina, korut, yang semuanya bermazhab ateis-komunis, korupsinya juga sangat kuat dan merajalela. Sekali lagi korupsi adalah soal mental. Asalkan mental orang itu berkomitmen menuruti perintah agama atau hukum negaranya, dia akan malu melakukannya.
            “Tapi bagi saya, itu tetap paradoks. Sebaiknya copot saja jilbabnya!” kata si Umar sewot.
            “Lho, kenapa harus dicopot jilbabnya? Yang benar itu hukum saja pelaku korupsinya.”
            “Percuma!”
            “Jilbab itu untuk nutup auratnya, bukan kejahatannya!” Kyai Obing ngoto.
            “Enggak ngaruh! Buktinya dia tetap melanggar hukum!”
            “Apa kalau ente melanggar hukum, ente mau celana ente dicopot supaya aurat ente ngablak di muka umum?”
            Gubrak!!!
            Qiqiqi.......
            Wkwkwk......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar